Home / Pop Culture / Katanya Jelek, Tiap Episode Dicela, tapi Tetap Ditonton Sampai Tamat: Apa Itu Hate-Watching?

Katanya Jelek, Tiap Episode Dicela, tapi Tetap Ditonton Sampai Tamat: Apa Itu Hate-Watching?

Episode pertama.

“Jelek banget.”

Episode kedua.

“Dialognya makin aneh.”

Episode ketiga.

“Kenapa karakter ini bikin keputusan sebodoh itu?”

Episode keempat.

“Gue nggak ngerti kenapa orang nonton beginian.”

Lalu tiga hari kemudian:

episode terakhir sudah selesai ditonton.

Lebih aneh lagi, sepanjang menonton kita mungkin terus mengeluh.

Plot-nya tidak masuk akal.

Karakter menyebalkan.

Akting terasa aneh.

Ending mudah ditebak.

Tetapi ketika episode baru muncul, kita tetap menekan Play.

Kalau pernah mengalami situasi seperti ini, ada istilah populer yang cukup dekat untuk menggambarkannya:

hate-watching.

Namun apa itu hate-watching sebenarnya?

Apakah artinya kita benar-benar membenci sebuah film atau serial?

Kalau memang tidak suka, kenapa tidak berhenti menonton saja?

Jawabannya ternyata lebih menarik daripada sekadar:

“karena gabut.”

Apa Itu Hate-Watching?

Secara sederhana, hate-watching adalah kebiasaan terus menonton suatu konten meskipun kita merasa tidak menyukainya—bahkan terkadang justru karena ada banyak hal dari konten tersebut yang membuat kita kesal, geli, atau ingin mengkritiknya.

Kita tidak selalu menonton karena ingin menikmati ceritanya.

Kadang kita ingin melihat:

“Seberapa kacau lagi ini bakal jadi?”

Dan rasa penasaran itu cukup kuat untuk membawa kita ke episode berikutnya.

Hate-Watching Berbeda dengan Sekadar Menonton Film Jelek

Kita semua pernah menonton film yang ternyata tidak bagus.

Mulai film.

Setengah jam kemudian sadar:

“Kayaknya salah pilih.”

Tetapi tetap menyelesaikannya karena sudah terlanjur.

Itu belum tentu hate-watching.

Dalam hate-watching biasanya ada unsur keterlibatan yang lebih aktif.

Kita tahu ada banyak hal yang tidak kita sukai.

Kita mengomentarinya.

Mungkin membicarakannya dengan teman.

Mungkin membaca komentar orang lain.

Tetapi tetap kembali.

Jadi Kita Sebenarnya Suka atau Tidak?

Nah, ini yang menarik.

Hubungan kita dengan hiburan tidak selalu bisa dibagi menjadi:

suka

atau

tidak suka.

Ada tontonan yang secara kualitas menurut kita buruk tetapi tetap entertaining.

Ada karakter yang menyebalkan tetapi justru membuat penasaran.

Ada cerita absurd yang membuat kita ingin tahu seberapa jauh penulis akan membawanya.

Enjoyment Bisa Datang dari Kritik

Misalnya sebuah reality show terasa berlebihan.

Kita tidak menikmati acaranya dengan cara:

“Ini karya luar biasa.”

Kita menikmatinya dengan cara:

“Gila, ini orang ngapain?”

Tetap enjoyment.

Hanya bentuknya berbeda.

Kadang yang Kita Nikmati Bukan Kontennya, tetapi Reaksi Kita terhadap Konten

Ini salah satu kunci memahami hate-watching.

Tontonan menjadi bahan.

Yang menyenangkan justru:

mengomentari,

menertawakan,

memprediksi kekacauan,

atau membicarakannya bersama orang lain.

Media Sosial Membuat Hate-Watching Jauh Lebih Menarik

Dulu kita bisa menonton acara buruk sendirian.

Selesai.

Sekarang setelah satu episode tayang, ada:

X,

TikTok,

Reddit,

Instagram,

YouTube,

group chat,

forum,

dan berbagai komunitas lain.

Episode tidak berhenti ketika credit muncul.

Setelah Episode, Dimulai Episode Kedua di Internet

Meme.

Reaction.

Review.

Thread.

Hot take.

Potongan adegan.

Debat.

Sekarang pengalaman menonton mempunyai lapisan sosial.

Kita Mungkin Menonton Hanya Supaya Mengerti Meme

Pernah timeline penuh membicarakan satu series?

Semua orang membuat joke.

Semua orang tahu satu karakter.

Kita tidak tertarik.

Tetapi akhirnya mulai menonton karena merasa:

“Gue harus tahu konteksnya.”

Ini bukan selalu hate-watching murni, tetapi bisa berkembang ke sana.

Setelah Mulai, Kita Merasa Harus Ikut Percakapan

Karena kalau berhenti di episode dua, kita tidak tahu drama episode lima.

Akhirnya lanjut.

FOMO Bisa Ikut Bermain

Fear of missing out bukan hanya soal acara atau perjalanan.

Ia juga bisa terjadi pada pop culture.

Ketika sebuah tontonan menjadi bahan percakapan besar, mengetahui ceritanya memberikan semacam akses ke percakapan tersebut.

Bahkan Membenci Sesuatu Bisa Menjadi Aktivitas Sosial

Bayangkan group chat:

“UDAH NONTON EPISODE BARU BELUM?”

“GILA MAKIN NGGAK MASUK AKAL.”

“Gue kesel banget sama karakter ini.”

Lalu semua tertawa.

Tontonannya Buruk, Malamnya Menyenangkan

Ini paradoks hate-watching.

Kualitas tontonan menurut kita mungkin rendah.

Tetapi pengalaman sosialnya tinggi.

Karena Itu Hate-Watching Sering Lebih Seru Bareng Teman

Komentar real-time membuat kekurangan sebuah acara berubah menjadi hiburan.

Plot hole menjadi joke.

Dialog aneh menjadi meme.

Scene awkward menjadi bahan tertawaan.

Ada Konsep “So Bad It’s Good”

Ini sedikit berbeda tetapi sering overlap.

Ada karya yang dianggap begitu buruk, aneh, berlebihan, atau tidak sengaja lucu sampai justru menjadi menyenangkan.

Kita tidak menikmati sesuai tujuan awal pembuatnya.

Tetapi tetap menikmati.

Film Bisa Gagal sebagai Drama tapi Berhasil sebagai Comedy Tidak Sengaja

Dan penonton tetap mendapatkan entertainment.

Camp Juga Tidak Sama dengan “Jelek”

Hati-hati mencampur semua hal.

Ada karya yang sengaja:

berlebihan,

theatrical,

artificial,

atau flamboyant.

Itu bisa menjadi pilihan estetika.

Jadi sesuatu yang terlihat “over the top” belum tentu buruk.

Hate-Watching Sangat Bergantung pada Perspektif Penonton

Satu orang bilang:

“Ini trash.”

Orang lain:

“Ini masterpiece.”

Tidak ada sensor universal yang menentukan kapan sebuah tontonan resmi menjadi hate-watch.

Kenapa Kita Tidak Berhenti Saja?

Ada beberapa alasan.

Yang pertama sangat sederhana:

curiosity.

Kalau cerita sudah dimulai, kita ingin tahu akhirnya.

Cliffhanger Bekerja Bahkan Kalau Kita Kesal

Episode buruk bisa tetap ditutup dengan pertanyaan menarik.

Siapa yang melakukan ini?

Apakah mereka putus?

Siapa yang mati?

Apa rahasianya?

Sekarang otak punya unfinished business.

Kita Ingin Closure

Tidak selalu karena ceritanya bagus.

Kadang hanya ingin tahu:

“Gue sudah sampai sini. Sekalian lihat ending-nya.”

Ini Mirip Membaca Buku yang Tidak Terlalu Disukai tapi Tinggal 50 Halaman

Secara rasional bisa berhenti.

Secara emosional:

“Udah nanggung.”

Sunk Cost Bisa Ikut Berperan

Kalau sudah menghabiskan tujuh jam menonton tujuh episode, berhenti sebelum episode delapan terasa seperti membuang tujuh jam sebelumnya.

Padahal waktu yang sudah digunakan tidak bisa kembali.

Tetapi secara psikologis, kita sering tetap mempertimbangkannya.

“Udah Sampai Sini”

Empat kata yang menyelesaikan banyak series mediocre.

Tetapi Sunk Cost Bukan Satu-Satunya Alasan

Kadang kita benar-benar penasaran.

Kadang seru membicarakannya.

Kadang ada satu karakter yang tetap disukai.

Kadang visualnya bagus.

Kadang musiknya menarik.

Sebuah karya bisa mempunyai bagian yang kita suka dan bagian yang kita benci secara bersamaan.

Hiburan Tidak Harus Dinikmati Secara Utuh

Mungkin plot buruk.

Tetapi chemistry aktornya menarik.

Mungkin karakter menyebalkan.

Tetapi production design bagus.

Mungkin writing berantakan.

Tetapi premise-nya unik.

Kita Bisa Membenci 70% dan Tetap Datang untuk 30%

Itu cukup untuk membuat tombol Next Episode ditekan.

Algoritma Streaming Juga Membuat Berhenti Sedikit Lebih Sulit

Episode selesai.

Countdown.

Episode berikutnya mulai.

Kita bahkan belum membuat keputusan aktif.

Friction untuk Melanjutkan Sangat Kecil

Dulu:

episode selesai.

Tunggu minggu depan.

Sekarang:

episode berikutnya tersedia dalam beberapa detik.

Autoplay Mengubah Momentum

Ketika sudah berada dalam flow menonton, keputusan:

“lanjut atau tidak?”

bisa terasa hampir otomatis.

Binge-Watching dan Hate-Watching Bisa Bertemu

Binge-watching berarti menonton beberapa episode dalam satu sesi atau rentang waktu pendek.

Hate-watching menggambarkan hubungan kita dengan kontennya.

Jadi kita bisa:

binge-watch sesuatu yang disukai,

hate-watch satu episode per minggu,

atau binge-hate-watch seluruh season.

Ya, Kedengarannya Kontradiktif

Tetapi sangat mungkin.

Reality TV Sangat Cocok untuk Fenomena Ini

Bukan berarti semua reality show buruk.

Tetapi format reality TV sering memiliki elemen yang sangat kompatibel dengan hate-watching:

conflict,

dramatic editing,

awkward interactions,

larger-than-life personalities,

dan cliffhanger.

Kita Bisa Kesal pada Peserta tapi Tetap Penasaran

“Besok mereka berantem lagi nggak?”

Itu sudah cukup.

Dating Shows Juga Punya Mesin yang Mirip

Kita mungkin merasa keputusan pesertanya absurd.

Tetapi justru ingin melihat konsekuensinya.

Drama Menjadi Hook

Bahkan ketika kita mengkritiknya.

Scripted Series Juga Bisa Menjadi Hate-Watch

Terutama ketika penonton sudah invested dari season sebelumnya.

Season pertama bagus.

Season kedua masih oke.

Season ketiga mulai aneh.

Season empat:

“Ini penulisnya kenapa?”

Tetapi kita sudah bersama karakter tersebut selama bertahun-tahun.

Attachment Membuat Berhenti Sulit

Kita mungkin tidak lagi menyukai arah ceritanya.

Tetapi masih peduli dengan dunia dan karakter.

Franchise Punya Efek yang Sama

Kalau sudah mengikuti seri sejak lama, kita bisa menonton installment baru meskipun ekspektasi rendah.

Bukan karena yakin bagus.

Tetapi karena:

“Gue sudah nonton semuanya.”

Completionism Ikut Bermain

Ada kepuasan ketika daftar lengkap.

Semua season.

Semua film.

Semua spin-off.

Ini Tidak Selalu Rasional

Tetapi hiburan memang tidak harus sepenuhnya rasional.

Hate-Watching Bisa Berubah Menjadi Genuine Enjoyment

Kadang mulai dengan niat:

“Gue mau lihat sejelek apa.”

Episode empat:

“Sebentar, kok gue mulai peduli?”

Episode delapan:

“Jangan ganggu, gue lagi nonton.”

Irony Bisa Hilang

Awalnya menonton secara ironis.

Lama-lama benar-benar suka.

Ini salah satu risiko lucu dari hate-watching.

Sebaliknya Juga Bisa Terjadi

Mulai sebagai fan.

Lalu kualitas menurut kita turun.

Tetapi kebiasaan menonton tetap ada.

Akhirnya berubah menjadi hate-watch.

Hubungan Penonton dengan Series Bisa Berubah dari Season ke Season

Tidak statis.

Kenapa Membicarakan Tontonan Buruk Terasa Menyenangkan?

Karena kritik juga merupakan bentuk engagement.

Kita membedah:

kenapa scene tidak bekerja,

kenapa keputusan karakter terasa tidak masuk akal,

kenapa twist mudah ditebak.

Otak Menjadi Aktif

Kita tidak hanya menerima.

Kita mengevaluasi.

Untuk Orang yang Suka Film, Ini Bisa Menjadi Latihan Taste

Kadang kita belajar lebih banyak dari karya yang tidak disukai.

Karena kita dipaksa menjelaskan:

kenapa gue nggak suka ini?

“Jelek” Saja Tidak Menjelaskan Banyak

Apa yang jelek?

Pacing?

Dialogue?

Character development?

Editing?

Acting?

Tone?

Kritik yang Spesifik Membantu Kita Memahami Preferensi Sendiri

Dan ini berlaku untuk:

film,

musik,

buku,

game,

dan seni lainnya.

Tapi Ada Perbedaan antara Kritik dan Menyerang Orang

Ini penting dalam internet culture.

Tidak suka karakter fiksi?

Silakan.

Tidak suka writing?

Silakan.

Tidak suka performance?

Bisa dikritik.

Tetapi Aktor Bukan Karakternya

Mengirim hate ke akun pribadi aktor karena karakter yang dimainkan menyebalkan jelas berbeda dari mengkritik sebuah karya.

Hal yang Sama Berlaku untuk Reality Show

Editing dan produksi membentuk apa yang kita lihat.

Penonton tidak selalu mengetahui keseluruhan konteks kehidupan seseorang.

Hate-Watching Tidak Harus Berubah Menjadi Harassment

Kita bisa mengkritik entertainment tanpa menyerang orang secara personal.

Internet Kadang Menghapus Batas Itu

Satu karakter dibenci.

Nama aktor trending.

Komentar akun pribadi penuh serangan.

Di titik itu, “fun hate-watch” sudah menjadi sesuatu yang berbeda.

Jangan Lupa bahwa Engagement Tetap Engagement

Ini bagian yang agak ironis.

Kita mungkin terus posting:

“Series ini buruk banget.”

Tetapi setiap post membantu membuat series tersebut semakin terlihat.

Orang Lain Jadi Penasaran

“Emang sejelek apa?”

Mereka mulai menonton.

Sekarang jumlah penonton bertambah.

Negative Buzz Tetap Buzz

Tidak selalu, tetapi kontroversi dapat meningkatkan awareness.

Karena Itu “Semua Orang Membenci Acara Ini” Tidak Otomatis Berarti Acara Itu Tidak Populer

Bahkan bisa terjadi sebaliknya.

Semakin banyak dibicarakan, semakin banyak orang penasaran.

Popularitas dan Sentimen Adalah Dua Hal Berbeda

Sebuah series bisa:

banyak ditonton

dan

banyak dikritik

pada waktu yang sama.

Viewership Tidak Menjelaskan Alasan Orang Menonton

Angka play tidak punya tombol:

“Saya menonton karena benci.”

Dari sisi platform, tontonan tetap tontonan.

Inilah Kenapa Hate-Watching Menarik dari Perspektif Streaming

Kalau orang terus kembali setiap episode, konten tersebut berhasil mempertahankan perhatian—meskipun sebagian perhatian datang dari kritik.

Tetapi Jangan Terlalu Menyederhanakan Algoritma

Kita tidak tahu seluruh faktor internal yang digunakan setiap platform.

Completion, watch time, engagement, retention, dan berbagai sinyal bisa diperlakukan berbeda.

Yang Aman Dikatakan: Menonton Tetap Menghasilkan Aktivitas

Kalau tujuan pribadi kita benar-benar tidak ingin mendukung sebuah konten, terus menontonnya jelas bukan bentuk disengagement.

Apakah Hate-Watching Buruk?

Tidak otomatis.

Kalau kita menikmati pengalaman tersebut dan tidak mengganggu hidup, ya itu entertainment.

Orang menonton film horror untuk takut.

Menonton tragedy untuk sedih.

Menonton comedy untuk tertawa.

Kenapa tidak boleh menonton sesuatu untuk:

“Gue pengen kesel bareng teman”?

Emosi Negatif Juga Bisa Menjadi Bagian dari Entertainment

Yang penting konteksnya.

Tetapi Ada Titik ketika Tidak Lagi Menyenangkan

Kalau setiap episode benar-benar membuat:

stres,

marah,

capek,

dan kita bahkan tidak menikmati diskusinya—

mungkin pertanyaan sederhananya:

kenapa masih nonton?

Tidak Ada Hadiah untuk Menyelesaikan Series yang Dibenci

Kita boleh berhenti.

DNF Bukan Hanya untuk Buku

Did Not Finish berlaku secara konsep untuk entertainment apa pun.

Film.

Series.

Game.

Podcast.

Waktu Luang Terbatas

Kalau ada 200 series yang ingin ditonton, kenapa harus menghabiskan 12 jam untuk sesuatu yang benar-benar tidak memberikan apa-apa?

Bedakan Hate-Watching yang Fun dan Hate-Watching karena Kebiasaan

Versi fun:

“Ini absurd banget, gue sama teman-teman ngakak tiap episode.”

Masih memberikan sesuatu.

Versi kebiasaan:

“Gue benci. Nggak seru. Nggak penasaran. Tapi ya lanjut aja.”

Mungkin layak dihentikan.

Tanya Satu Hal

“Kalau episode berikutnya tidak pernah dibuat, gue kecewa nggak?”

Kalau jawabannya:

“Enggak, malah lega.”

Mungkin sudah waktunya pindah tontonan.

Hate-Watching Juga Bisa Menjadi Ritual

Setiap Jumat malam.

Pesan makanan.

Buka series yang “dibenci”.

Masuk group call.

Semua komentar.

Sekarang yang berharga sebenarnya bukan series-nya.

Ritual Sosialnya yang Berharga

Series hanya menjadi alasan untuk berkumpul.

Dan itu valid.

Kadang “Bad Movie Night” Memang Sengaja Dicari

Pilih film yang dianggap ridiculous.

Nonton ramai-ramai.

Komentari.

Tertawa.

Di Sini Kualitas Tradisional Bukan Tujuan Utama

Entertainment datang dari shared experience.

Kenapa Meme Membuat Series Bertahan Lebih Lama di Percakapan?

Karena satu scene bisa hidup di luar konteks aslinya.

Orang yang tidak pernah menonton pun mungkin mengenal meme-nya.

Meme Menjadi Produk Budaya Sendiri

Kadang lebih terkenal daripada film atau series asalnya.

Hate-Watching Memberi Banyak Bahan Meme

Scene awkward.

Expression aneh.

Dialogue yang terasa unnatural.

Plot twist absurd.

Semua mudah dipotong menjadi reaction content.

Sekarang Tontonan Tidak Hanya Bersaing Menjadi “Bagus”

Ia juga bisa menjadi:

shareable,

memeable,

discussable.

Ini Mengubah Cara Pop Culture Bergerak

Dulu keberhasilan entertainment sangat bergantung pada orang ingin menontonnya.

Sekarang ada tambahan:

orang ingin membicarakannya.

Dua Hal Itu Tidak Selalu Sama

Kita bisa membicarakan sesuatu yang tidak kita sukai selama berminggu-minggu.

Controversy Bisa Memperpanjang Umur Percakapan

Ending buruk?

Internet debat.

Casting kontroversial?

Internet debat.

Adaptasi berbeda dari source material?

Internet debat.

Perdebatan Menjadi Bagian dari Produk Budaya

Kadang hampir sebesar karya itu sendiri.

Adaptasi Punya Potensi Hate-Watch Tinggi

Terutama ketika ada fanbase yang sudah mengenal versi asli.

Mereka masuk dengan ekspektasi.

Lalu mulai membandingkan.

“Di Buku Nggak Begini.”

“Karakter ini harusnya beda.”

“Kenapa scene itu dihapus?”

Tetapi tetap menonton setiap episode supaya tahu perubahan berikutnya.

Kritik Menjadi Alasan untuk Tetap Mengikuti

Ironis, tetapi masuk akal.

Nostalgia Juga Bisa Membuat Kita Bertahan

Reboot serial masa kecil.

Sekuel film lama.

Adaptasi game favorit.

Walaupun tidak terlalu suka hasilnya, rasa keterikatan dengan versi lama membuat kita penasaran.

Kita Ingin Melihat Apa yang Mereka Lakukan terhadap Sesuatu yang Kita Kenal

Kadang hasilnya menyenangkan.

Kadang tidak.

Tetapi curiosity tetap ada.

Hate-Watching Bisa Membentuk Komunitas

Internet sangat bagus dalam satu hal:

mengumpulkan orang yang punya opini sama.

Termasuk:

“Kita semua nggak suka series ini.”

Komunitas Anti-Fandom Itu Nyata sebagai Fenomena Internet

Orang bisa menghabiskan banyak waktu membahas sesuatu yang tidak disukai.

Review.

Analysis.

Reaction.

Forum.

Dalam Beberapa Kasus, Anti-Fandom Hampir Seaktif Fandom

Mereka sama-sama:

menonton,

menghafal detail,

mengikuti berita,

dan membahas karakter.

Bedanya hanya sentimennya.

Ini Salah Satu Paradoks Internet Culture

Orang yang paling tahu sebuah franchise belum tentu fan.

Bisa jadi justru critic paling aktif.

Apakah Itu Aneh?

Sedikit.

Tetapi juga sangat manusiawi.

Kita cenderung memberikan perhatian pada sesuatu yang memicu emosi kuat.

Indifference Justru Lebih Berbahaya bagi Pop Culture

Kalau orang suka:

dibicarakan.

Kalau orang benci:

dibicarakan.

Kalau orang tidak peduli:

hilang.

Tidak Semua Negative Attention Menguntungkan

Perlu hati-hati di sini.

Kontroversi juga bisa membuat orang benar-benar berhenti menonton.

Reputasi buruk dapat mengurangi minat.

Tidak ada aturan:

“Bad publicity selalu bagus.”

Itu terlalu sederhana.

Tetapi Negative Attention Bisa Menciptakan Curiosity

Terutama kalau orang terus melihat konten tersebut di timeline.

“Gue Harus Lihat Sendiri”

Kalimat ini adalah mesin kuat untuk hate-watch.

Review Buruk Bisa Menjadi Iklan Tidak Sengaja

Rating rendah.

Komentar brutal.

Video berjudul:

“THIS IS THE WORST SHOW EVER.”

Sebagian orang justru berpikir:

“Serius separah itu?”

Play.

Ekspektasi Rendah Kadang Membuat Pengalaman Lebih Menyenangkan

Kalau datang berharap masterpiece dan mendapat tontonan biasa, kecewa.

Kalau datang berharap bencana total dan ternyata lumayan:

“Eh, nggak seburuk itu.”

Context Membentuk Experience

Apakah Hate-Watching Hanya Ada di Film dan Series?

Tidak.

Konsep serupa bisa muncul pada berbagai bentuk media.

Reality TV.

YouTube.

Livestream.

Podcast.

Sports entertainment.

Bahkan social-media creator tertentu.

Kita Mengeluh tapi Tetap Follow

“Kontennya bikin kesel.”

Tapi semua Story ditonton.

Semua post dibaca.

Ini Sudah Mendekati Bentuk Lain dari Negative Engagement

Mekanismenya mirip:

emosi membuat perhatian bertahan.

Tetapi Jangan Gunakan Istilah Hate-Watching untuk Semua Hal

Kalau kita cuma melihat satu video yang tidak disukai, itu bukan pola yang sama.

Hate-watching biasanya mengandung unsur kembali lagi.

Repetition Penting

Kita tahu pengalaman sebelumnya negatif.

Tetapi memilih—atau setidaknya terus terbawa—untuk mengulangnya.

Bagaimana Tahu Kita Sedang Hate-Watching?

Coba lihat tanda-tandanya.

Kita terus mengatakan series tersebut buruk.

Tetapi selalu tahu kapan episode baru keluar.

Kita membaca komentar setelah episode.

Kita punya banyak opini tentang karakter.

Kita mengirim meme-nya.

Kita bilang akan berhenti.

Tetapi minggu depan kembali.

Kalau Itu Terjadi…

Ya.

Kemungkinan hubungan kalian belum selesai.

Cara Menikmati Hate-Watch Tanpa Membuat Diri Sendiri Capek

Pertama:

sadari kenapa kita menonton.

Kalau karena seru bersama teman, bagus.

Kalau karena penasaran, juga jelas.

Kedua: Tidak Harus Mengikuti Semua Diskusi

Internet bisa mengubah hiburan menjadi perang.

Mute keyword kalau perlu.

Ketiga: Pisahkan Kritik Karya dan Serangan Personal

Aktor, penulis, sutradara, peserta reality show, dan fans lain tetap manusia.

Keempat: Berhenti Kalau Tidak Ada Lagi Nilainya

Tidak perlu menunggu finale demi membuktikan sesuatu.

Kelima: Cari Tontonan yang Benar-Benar Disukai Juga

Kalau seluruh entertainment kita hanya terdiri dari hal-hal yang membuat marah, mungkin waktunya mengganti menu.

FAQ

Apa itu hate-watching?

Hate-watching adalah istilah populer untuk kebiasaan terus menonton film, serial, acara, atau konten lain meskipun penonton merasa tidak menyukainya, sering kali karena rasa penasaran, kritik, humor, kebiasaan, atau pengalaman sosial di sekeliling tontonan tersebut.

Kenapa orang tetap menonton series yang tidak disukai?

Alasannya bisa bermacam-macam, seperti ingin mengetahui ending, sudah terlanjur mengikuti banyak episode, ingin ikut percakapan online, menikmati komentar bersama teman, atau justru merasa kekurangan series tersebut menghibur.

Apakah hate-watching sama dengan binge-watching?

Tidak. Binge-watching berkaitan dengan menonton banyak episode dalam waktu relatif singkat. Hate-watching berkaitan dengan hubungan negatif atau kritis penonton terhadap konten. Keduanya bisa terjadi bersamaan.

Apakah hate-watching berarti sebenarnya kita suka?

Tidak selalu. Seseorang bisa tidak menyukai kualitas sebuah karya tetapi tetap menikmati pengalaman mengkritik, menertawakan, atau mendiskusikannya. Hubungan dengan entertainment tidak selalu hanya “suka” atau “benci”.

Apa arti “so bad it’s good”?

Istilah ini biasanya digunakan ketika sebuah karya dianggap memiliki begitu banyak kekurangan atau elemen absurd sehingga justru menjadi menyenangkan untuk ditonton, sering kali dengan cara yang mungkin berbeda dari tujuan awal pembuatnya.

Apakah hate-watching membantu popularitas sebuah series?

Bisa berkontribusi terhadap perhatian dan percakapan karena penonton tetap menonton atau membicarakannya. Namun negative attention tidak selalu menguntungkan; kritik juga dapat membuat calon penonton kehilangan minat.

Apakah hate-watching buruk?

Tidak otomatis. Jika masih menjadi hiburan atau aktivitas sosial yang menyenangkan, tidak ada masalah inheren. Namun jika menonton hanya membuat stres dan tidak lagi memberikan nilai, tidak ada kewajiban untuk terus menyelesaikannya.

Apakah menyerang aktor karena membenci karakter termasuk hate-watching?

Tidak. Kritik terhadap karya berbeda dengan harassment terhadap orang yang terlibat. Aktor tidak sama dengan karakter yang diperankannya, dan ketidaksukaan terhadap tontonan tidak membenarkan serangan personal.

Kesimpulan

Ada sesuatu yang lucu dari hate-watching.

Kita menghabiskan berjam-jam menjelaskan kenapa sebuah series buruk.

Kita mengkritik karakter.

Mengeluh tentang plot.

Menertawakan dialog.

Berkata:

“Gue nggak akan lanjut lagi.”

Lalu episode baru keluar.

Play.

Karena ternyata alasan kita menonton entertainment tidak selalu sesederhana:

“Gue suka ini.”

Kadang kita penasaran.

Kadang sudah terlanjur invested.

Kadang ingin tahu ending.

Kadang ingin memahami meme.

Kadang ingin ikut percakapan.

Dan kadang sebuah tontonan yang menurut kita buruk justru menciptakan malam yang sangat menyenangkan ketika ditonton bersama teman.

Itulah kenapa pertanyaan apa itu hate-watching tidak cukup dijawab dengan:

“menonton sesuatu yang dibenci.”

Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana entertainment modern bekerja.

Film atau series sekarang tidak hanya hidup di layar.

Ia hidup di:

group chat,

meme,

reaction video,

thread,

review,

dan debat.

Kita mungkin tidak menyukai karya tersebut.

Tetapi selama kita masih membicarakannya, mengingatnya, dan kembali setiap minggu—

karya itu masih memiliki sesuatu yang sangat berharga di era internet:

perhatian kita.

Tagged: